Postingan

BERMAZHAB ASY'ARIYYAH KONTRAPRODUKTIF DENGAN UPAYA PENANGGULANGAN COVID-19?

Di tengah kegaduhan akibat pandemic Covid-19, muncul respons demikian: “Hidup dan mati sudah diatur oleh Allah. Kalau sudah waktunya mati, ya mati. Kalau belum, ya tidak akan mungkin mati.” Atau, “Saya tidak takut Corona, hanya takut kepada Allah.”  Ada juga yang mengatakan, “Corona telah merusak tatanan agama. Sholat di masjid tak boleh lama-lama. Iktikaf di masjid tak dianjurkan. Bersilaturrahim harus dihindari. Bersalaman pun harus dijauhi.” Ada pula yang bercetus, “Jangan tinggalkan masjid karena takut Corona.”  Persoalannya, orang-orang yang memegangi prinsip demikian tetap menjalankan kehidupan sehari-hari tanpa mengindahkan anjuran terkait penanganan pandemi Covid-19. Merespon itu, banyak yang gelisah dan mempertanyakan jangan-jangan pemikiran kegamaan kita ini memang kontraproduktif dengan upaya para ilmuwan untuk menangani pandemi Covid-19. Lebih jauh lagi, jangan-jangan sikap keagamaan kita bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Secara teori, mayoritas umat Islam Indonesia men

Nomophobia | Achmad Munjid

Nomophobia Achmad Munjid Nomophobia adalah temannya FOMO (fear of missing out), alias takut kudet yang pernah kutulis beberapa waktu lalu. Nomophobia adalah kosa kota baru dalam bahasa Inggris yang mulai dikenal sekitar 2008. Ia berarti rasa cemas bahkan ketakutan yang berlebihan akibat tidak adanya atau terhambatnya akses terhadap HP. Sedang konsekuensi dari FOMO dan nomophobia disebut "phubbing" (phone-snubbing), yaitu tindakan sebentar-sebentar mengecek HP hingga mengabaikan lawab bicara, orang-orang lain atau lingkungan sekitar. Sebagai eskapisme, banyak orang melakukan phubbing, misalnya untuk menghindari interaksi yang tidak perlu dengan orang lain atau rasa tidak nyaman di tempat yang asing seperti ketika ada dalam kendaraan umum atau tempat yang tak dikenal. Dalam banyak situasi, mengabaikan lingkungan dan orang lain yang ada di sekitar kini kian menjadi eskapisme yang dianggap "normal". Jangan lupa, banyak orang jadi sasaran tindakan kriminal juga akibat &q

BERTIRAKAT PADA MALAM HARI RAYA

Lanjutan Ngaji Suluk BERTIRAKAT PADA MALAM HARI RAYA  Oleh: Nur Kholik Ridwan (Pembina Yayasan Bumi Aswaja, dan Pengasuh Pesantren Bumi cendekia, Gombang Yogyakarta) Nabi Muhammad shollallohu `alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendirikan (menghidupkan) malam Idain dengan berharap memperoleh pahala (dan ridha Allah), hatinya tidak akan mati pada saat matinya hati-hati (manusia)” (HR. Ibnu Majah, No. 1782). Salah satu waktu yang hajat diketahui pesuluk di jalan Allah adalah waktu malam hari raya. Bertirakat pada malam hari raya memiliki beberapa faedah, seperti disebutkan dalam hadits di atas. Dalam riwayat Ibnu Majah, hadits di atas diriwayatkan melalui jalan Abu Umamah. Kalau melihat pada hadits ini saja, memang dinilai oleh sebagian Ahli hadits sebagai hadits lemah. Akan tetapi dalam Syuruh Ibnu Majah, dikutip penjelasan al-Bushiri yang menjelaskan adanya penguat dari beberapa jalan. Dalam kitab Syuruh Ibnu Majah, ketika menjelaskan hadits 1782 itu, dijelaskan kutipan Al-Buhsiri

AMAL-AMAL UNTUK MEMPEROLEH SYAFA`AT NABI MUHAMMAD

Lanjutan Ngaji Suluk AMAL-AMAL UNTUK MEMPEROLEH SYAFA`AT NABI MUHAMMAD Oleh: Nur Kholik Ridwan (Pembina Yayasan Bumi Aswaja-Yogyakarta dan Pengasuh Pesantren Bumi Cendekia, Gombang-Yogyakarta) “Tiada yang memberi syafaat di sisi Allah tanpa idzin-Nya” (QS. Al-Baqoroh [2]: 255). Pesuluk di jalan Allah, adalah orang yang selalu mengaharap kawelasan dan ampunan Allah. Bergiat dengan amal-amal selalu dikerjakan, tetapi harapan memperoleh rahmat Allah tidak digantungkan kepada aml-amal, tetapi kepada Allah. Beramal dengan tekun berarti dia mengerti perlu ada upaya tertentu untuk memperoleh sesuatu;  dan tidak menggantungkan pada amal-amal berarti dia mengerti, ada Irodah Allah dalam semua hal.  Yang tumbuh kemudian adalah harapan kepada Allah, dan rasa takut sekaligus, kepada Allah. Keadaan rasa takut itu mendorong pesuluk untuk  mengerti tentang Kemurahan Allah; dan Keperkasaan Allah, dalam setiap perjalanan dan keadaan.  Kalau pesuluk sudah memiliki rasa kecil di hadapan Allah, dia akan m

BERTIRAKAT PADA MALAM LAILATUL QODAR

Lanjutan ngaji suluk BERTIRAKAT PADA MALAM LAILATUL QODAR Oleh: Nur Kholik Ridwan (Pembina Yayasan Bumi Aswaja Yogyakarta, dan Pengasuh PP Bumi Cendekia, Gombang, Yogyakarta) Dari Sayyidah Aisyah berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shollalahu alaihi wasallam, yaitu jika ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar, lalu apa doa yang mesati aku ucapkan?” Rasulullah menjawab: “Berdoalah Allohumma innaka Afuwwun Karim tuhibbul `afwa fa’fu `anni” (HR. Tirmidzi, No. 3513). Pesuluk di jalan Allah, hajat mengerti waktu istimewa yang ada di bulan Ramadhan itu, yaitu Lailatul Qodar, yang diabadikan dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Qadar. Doa di atas adalah doa yang direkomendasikan Rasulullah kepada Sayyidah Aisyah untuk mengisi Lailatul Qodar. Inti doa adalah memohon ampunan  dan mengharap kawelasan Gusti Allah. Imam Tirmidzi menyebut hadits di atas dengan: “Ini hadits hasan shahih”. Lailatul Qodar itu adanya di bulan Ramadhan, dan terus ada setiap tahun, sebaga

BERTIRAKAT PADA HARI JUM`AT

Ngaji Suluk II (9) BERTIRAKAT PADA HARI JUM`AT Oleh: Nur Khalik Ridwan (Pembina Yayasan Bumi Aswaja dan Pengasuh Pesantren Bumi Cendekia Yogyakarta) “Hari Jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang Muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘Ashar” (HR. Al-Hakim). Hadits di atas disebutkan dan dikeluarkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak `alash Shahihaini, No. 1034 (versi Darul Haramain, 1997/1417, I: 406). Al-Hakim berkomentar soal isnad hadits ini: “Ini hadits shahih berdasarkan syarat Muslim”. Hadits yang menyebutkan soal ini disebutkan pula oleh beberapa riwayat hadits oleh perawi lain seperti dalam riwayat An-Nasa’i (No. 1760-1766, I: 279), Bukhari (No.  935); Muslim (No. 852), Ahmad (No. 10302). Hanya saja, pada riwayat Al-Hakim, ada tambahan redaksi: “Akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘Ashar (akhirus sa`ah ba’dal ashr).” Jum`a

KAUM TA’IBUN, LISAN BERISTIGHFAR, DAN KEWAJIBAN “QODHO’UL FA’ITAT”

Ngaji Suluk II (8) KAUM TA’IBUN, LISAN BERISTIGHFAR, DAN KEWAJIBAN “QODHO’UL FA’ITAT” Oleh: Nur Kholik Ridwan (Pembina Yayasan Bumi Aswaja, dan Pengasuh PP Bumi Cendekia Yogyakarta) “Adapun bagi orang-orang umum dan orang-orang yang lalai mengerjakan sholat maka dia diberi kelonggaran untuk mengqodho’nya, dan segera bertaubat kepada Allah. Namun apabila dia tetap meninggalkan shalat (dalam qodho’), maka kelonggaran itu tidak diberikan, melainkan adzab yang dia terima” (Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad) Hikmah di atas berasal dari al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad (penyusun Ratib al-Haddad) dalam kitab An-Nashaih ad-Diniyah wal Washaya al-Imaniyah. Apa yang dikemukakan dalam hikmah di atas, menegaskan ada orang-orang yang menggunakan kelonggaran yang diberikan Allah dengan mengqodho’ dalam memenuhi kewajiban-kewajiban fardhu yang ditinggalkan; dan ada yang tidak menggunakannya. Orang yang menggunakan kelonggaran itu, adalah orang-orang yang mengerti tentang ilmu menyesal. Dalam soal i

Para `Abirus Sabil, Minal Khariqin, dan Alladzi Asra bi Abdihi

Ngaji Suluk II (7) Oleh: Nur Kholik Ridwan (Pembina Yayasan Bumi Aswaja, dan Pengasuh PP Bumi Cendekia Yogyakarta) “Aku akan pergi meninggalkan dunia,  aku juga akan berpisah dengan kawan-kawanku, aku pun akan minum dari gelas kematian. Juga aku akan bertemu dengan amal-amal burukku, serta yang terpenting juga aku akan bertemu dengan Allah Yang Maha Penyayang” (Imam Syafii). Kalimat hikmah dari Imam Syafi`i di atas dimuat dalam Ath-Thabaqat al-Kubra al-Musammat bi Lawaqihil Anwar fi Thabaqatil Ahyar, karya Syaikh Abdul Wahab asy-Saya’rani (versi Maktabah al-Amirah asy-Syarfiyah, Mesir, 1315). Kalimat hikmah di atas menggambarkan kesadaran seorang mukmin yang telah sadar tentang perjalanan hidup di dunia untuk mujahadah. Memang pada dasarnya orang hidup di dunia itu sedang melakukan perjalanan, dan kesadaran untuk menempuh perjalanan itu, berarti orang itu sedang bersuluk dalam perjalanannya. Berdasarkan kesadaran tentang kesadaran perjalanan hidup itu, manusia dibagi ke dalam beberapa