Postingan

Menampilkan postingan dengan label matasantri

🔴 DUET GUS SABUTH DAN GUS MUWAFIQ

Gambar
   

Hadits Bendera dan Panji-Panji

1. Hadits-hadits tentang liwa’ (bendera) dan royah (panji-panji), konteksnya adalah dalam perang.  Imam al-Bukhori memasukkan ini dalam bab “al-Jihâd was Siyar”, sehingga dimasukkan dalam konteks perang, dan di antaranya menyebutkan: “Bahwa sesungguhnya Qois bin sa`ad al-Ansori itu shohibu liwa’ir Rasul.” (No. 2974); lalu ada hadits lain, tentang liwa’ di No. 2975, tetapi tidak berkaitan dengan warna liwa’ atau warna royah. Dengan melihat itu, dapat difahami, mereka yang menampilkan liwa’ dan royah, apakah ini bisa dianggap  “mereka membawa spirit “perang” dan sedang berpikirsedang menghadapi musuh.” Dalam konteks ini adalah bangsa Indonesia, NKRI dan Pancasila dan umat Islam yang mendukung eksistensi berdirinya Indonesia, mayoritas al-Jamaah di dalam himpunan kaum muslimin. Dan apakah berarti mereka tidak menghargai pendapat al-Jama’ah dan lebih memilih menyempal dari al-Jama’ah untuk mendirikan selain bangsa ini? 2. Bentuk Liwa’ dan Royah di “Peperangan Nabi” Ibnu Bathol, pensyarah S

Ikhlas

Hajar protes. Mengapa suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Seperti jamaknya dia hanya bisa menduga bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberi putra. Hajar mengejar Ibrahim, suaminya, dan berteriak: “Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?” Ibrahim terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya terjepit antara pengabdian dan pembiaran. Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?” Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semua terke

NGAJI BARENG #20

Dzikron Katsiro dan Dzikir Huwalloh ketika Sakratul Maut Alloh ngendiko wonten al-Qur’an: Ya ayyuhalladzina amanudz kurulloha dzikron katsiro. Artosipun, hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Alloh dengan dzikir yang banyak. QS. al-Ahzab, ayat 41. Kanjeng Nabi ngendiko: Laqqinu mautakum lailaha illalloh. Artosipun: ajarilah -talqinlah- orang-orang yang meninggal di antara kamu dengan La ilaha illaloh HR. Muslim, No. 916. Ayat yang lain, yang sama artinya dengan perintah untuk berdzikir kepada Alloh dengan sebanyaknya ada di QS. Al-Anfal ayat 45. Ayat di atas menurut Imam Mawardi dalam kitab tafsir an-Nukat wal `Uyun memiliki dua arti: bilqalbi dan billisan, dzikir yang mendorong orang untuk senantiasa hidupnya taat kepada-Nya dan menjauhi larangan-Nya (an-Nukat Wal-Uyun, IV: 409). Ingat kepada Alloh itu bermakna, bisa sampai menimbulkan kesadaran mengetahui, memahami, dan ma’rifat kepada Alloh, akan nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, af`al-Nya, dan Dzatnya yang Esa; karenanya

NGAJI BARENG #19

Ahlu Dzikri dan Sedulur Papat Lima Pancer Kakang Kawah Adi Ari-Ari Alloh berfirman dalam Al-Qur’an: Lahu mu`aqqibatun min baini yadaihi wamin kholfihi yahfazhunahu min amrillah… Artosipun: Bagi manusia (lahu mu`aqqibatun) ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergilirian di muka dan di belakangnya, mereka menjaga atas perintah Alloh…                                 QS. Ar-Ra’du ayat 11. Ayat di atas menjelaskan soal adanya malaikat-malaikat Alloh yang menjaga manusia, yang disebut mu`aqqibat. Ayat-ayat lain dan hadits Kanjeng Nabi, juga banyak menyebut, adanya malaikat-malaikat dihubungkan dengan diri manusia itu, dengan memiliki tugas masing-masing.  Dalam hubungannya dengan para malaikat itu, sebagian guru wirid ada yang mengajarkan filosofi Sedulur Papat Limo Pancer Kakang Kawah Adi Ari-Ari kepada murid-muridnya. Mereka ini, sebagian guru memberikan satu bagian khusus, Ihda’ Fatihah sebelum wirid-wiridnya dilakukan, ditujukan kepada Sedulur Papat Limo Pancer itu; di samping

NGAJI BARENG #18

Ahlul Wudhu’ dan Malaikat yang Selalu Mendoakan Suatu ketika Nabi berkata kepada sahabat Bilal, melalui riwayat Abu Hurairah: Annan Nabi qola li Bilal `indash sholatil fajri: Ya Bilal hadatsani bi arja `amalin `amiltahu fil Islam. Fa’inni sami’tu duffa na’laika fil jannah. Qola (Bilal): Ma `amiltu `amalan arja indi min anni atathohharu thahuran fi sa`atin min lailin au naharin illa shollaitu bi dzalikat thuhri ma kutiba li an ushalli. Artosipun: Sesungguhnya Nabi bersabda kepada sahabat Bilal tatkala selesai sholat fajar: Wahai Bilal, kebaikan apa yang paling kamu harapkan pahalanya dalam Islam, sebab aku telah mendengar kedua sandalmu  di surga. Maka sahabat Bilal menjawab: Kebaikan yang paling aku harapkan pahalanya adalah, aku belum pernah berwudhu, baik malam maupun siang, kecuali aku melanjutkannya dengan sholat sunnah, yang aku tentukan sendiri waktunya. Imam Bukhori, hadits No. 1149; dan versi lain diriwiyatkan Imam Muslim, pada bab al-Fadhailush Shohabah (Bilal bin Rabah), hadi

NGAJI BARENG #21

Selesai-Ahli Tamkin dan Ghoyahnya Wa’lam anna min amaratil ma’rifat billahi hushulil haibati minallohi, famanizdadat ma’rifatuhu izadadat haibatuhu, walma’rifah tujibus sakinah. Artosipun: “Lan ngertiyo siro, ing setuhune setengah sangking tetengere ma’rifate wong, iku hasile haibah, mongko tambah opo haibahe marang wong kuwi sopo sing tambah ma’rifate, lan ma’rifat kuwi mau majibake wong sing oleh ma’rifat dadi sakinah utowo tamkin.” Indonesine: “Ketahuilah, sesungguh sebagaian dari alamat orang memperoleh ma’rifat, hasilnya haibah maka bertambahlah haibah kepadanya siapa yang bertambah marifatnya, dan marifat itu mewajibkan kepadanya untuk menjadi sakinah atau tamkin. Kifayatul Atqiya’, IV: 972. Hikmah di atas, mengandung tiga hal penting: seseorang yang memperoleh ma’rifat dari Alloh, akan memperoleh haibah dari Alloh; siapa yang bertambah ma’rifatnya maka bertambah pula haibahnya; dan ma’rifat Alloh itu mewajibkan si empunya untuk sakinah dan tamkin.  Ma’rifat adalah penyaksian ata

NGAJI BARENG #17

Ahli Fatihatil Kitab dan al-Majdzub Dari sahabat Ubay bin Ka`ab, Kanjeng Nabi Muhammad bersabda: ma anzalallohu fit taurat wala fil Injil, wala fiz Zabur, wala fil Qur’an, matsalu Ummil Qur’an, wahiya as-Sab’ul Matsani wal Quranul `Azhim, alladzi utitu, wahiya maqsumatun baini wa baina ` abdi, wa li`abdi ma sa’ala.  Artosipun: Alloh tidak menurunkan dalam Taurat, dalam Injil, dalam Zabur, juga tidak dalam Al-Qur’an (selain surat al-Fatihah), seperti Ummul Qur’an, dan dia adalah as-Sab`ul Matsani wa al-Qur’anul `Azhim, yang diberikan kepadaku, dan dia dibuat perjanjian oleh Alloh, antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa saja yang diminta (dengan berkah surat al-Fatihah itu). Diriwayatkan ad-Darimi, at-Tirmidzi, an-Nasa’i , ibnu Jarir, ibnu Dharis, Ibnu Huzaimah, al-Hakim; dan dimuat dalam Durrul Mantsur, I: 14. Hadits Nabi di atas berbicara tentang surat al-Fatihah. Surat di dalam al-Qur’an yang paling sering dibaca oleh setiap orang mukmin. Karena dia dimasukkan dalam bacaan

NGAJI BARENG #16

Lewat sahabat Jabir Nabi ngendiko, man qola hina yasma`u an-nida’: Allahumma rabba hadzihi da’watit tammah washsh sholatil qo’imah, ati Muhammadanil wasilata wal fadhilah wab`atshu maqamam mahmudanil ladzi wa`adtahu, hallat lahu syafa`ati yaumal qiyamah. Artosipun: Kanjeng Nabi ngendiko, “Siapa yang berkata setelah mendengarkan panggilan adzan: Ya Alloh Tuhan yang memiliki seruan sempurna dan sholat yang tetap didirikan, karuniailah Kanjeng Nabi Muhammad al-wasilah dan al-fadhilah dan bangkitkanlah beliau ke dalam maqam terpuji yang engkau janjikan, wajib baginya memperoleh syafaatku pada hari kiamat. HR. Bukhari, No. 614; Fath ul Bari, II: 94. Itu adalah doa setelah mendengar adzan yang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad, yang redaksinya pendek dan mencukupi, diriwayatkan oleh Imam Bukhari lewat sahabat Jabir. Apa yang menarik di sini adalah, kita sebagai muslim dan mukmin, meletakkan Kanjeng Nabi dalam doa yang menegaskan, posisi kedekatan beliau dengan Alloh di tempat tertinggi di dala

NGAJI BARENG #15

Dalam kitab ar-Risalah al-Ghautsiyah disebutkan begini: Kullu thurin bainan Nasut wal Malakut wahuwa syari`atun, wakulli thurin bainal Malakut wal Jabarut fahuwa thariqatun, wakullu thurin bainal Jabarut wal Lahut fahuwa haqiqatun. Artosipun: “Setiap perjalanan antara Alam Nasut dan Alam Malakut adalah syariat, setiap perjalanan antara Alam Malakut dan Alam Jabarut adalah tarekat, dan setiap perjalanan antara Alam Jabarut dan Alam Lahut adalah haqiqat.” Ar-Risalah al-Ghautsiyah, percakapan ke-1. Masalah alam-alam yang diciptakan Alloh, mejadi pembahasan di kalangan ahli tasawuf, meskipun tidak semua kitab tasawuf membahas soal alam-alam ini. Soal alam-alam yang diciptakan Alloh itu dan tahapan menepuh perjalanan ke situ, terdapat pandangan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Dalam kitab ar-Risalah al-Ghautsiyah, yang berisi kumpulan percakapan Alloh dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani melalui ilham qalbi dan penyingkapan ruhani, percakapan pertama menyinggung itu. Dalam kitab ini, bahasany

NGAJI BARENG #14

Rasulullah ngendiko: al-kalimatul hikmah dhallatul mukminin, fahaitsu wajadaha fahuwa ahaqqu biha. Artosipun: kalimah hikmah itu sesuatu yang hilang dari seorang mukmin, maka di mana saja ia mendapatakannya, maka ia lebih berhak atasnya. Hadits riwayat Abu Hurairah, at-Tirmidzi, No. 2687 Hadits ini, meski banyak dinilai lemah sanadnya, tetapi diriwayatkan oleh banyak jalur, selain dari Abu Hurairah. Selain diriwayatkan Tirmidzi, juga diriwayatkan Ibnu Majah, No. 4169, al-Baihaqi No. 412. Riwayat lain, juga diriwayatkan dari Buraidhah al-Aslami, Ali bin Abi Thalib (oleh Ibnu Asyakir), Anas bin Malik (as-Syakhawi, al-Maqashidul Hasanah, No. 415), dan juga beberapa atsar sahabat, seperti disebutkan dalam Hilyatul Auliya', yang menukil dari Ka`ab al-Ahbar, juga atsar yang dikutip Imam Baihaqi dari Said bin Abi Burdah (al-Madkhal ila Sunanil Kubra, No. 844), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, No. 35681. Isi dari hadits tersebut adalah shahih, yang menunjukkan bahwa mukmin, harus b