Postingan

Menampilkan postingan dengan label Muktamar NU

NU memiliki kemampuan otoritatif sebagai representasi Islam

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Yahya Cholil Staquf, menjadi pembicara kunci di kampus bergengsi dunia, Universitas Oxford, Inggris pada Selasa, 21 November 2022. Gus Yahya memaparkan empat persoalan yang dihadapi oleh ummat Islam saat ini. Pertama, penggunaan istilah “kafir” kepada pemeluk agama yang berbeda. Terminologi ini seringkali secara politis digunakan sebagai dalih untuk melakukan kekerasan kepada pihak lain. NU secara tegas menolak hal tersebut. “Problem identitas muslim-kafir harus diatasi dengan cara yang tidak boleh menimbulkan masalah baru”, tegas Gus Yahya. Kedua, perlunya mengembangkan cara pandang baru tentang konsep Syari’ah. Menurut Gus Yahya, konsep ini seringkali dipahami sebagai sesuatu yang sudah selesai. Padahal pengembangan pemikiran Syariah Islam perlu dilakukan terus-menerus supaya ajaran Islam semakin relevan dengan kondisi dan kearifan masyarakat di seluruh dunia. Ketiga, perlunya mengatasi berbagai konflik yang terjadi dengan jalan dialog da

Masa Depan NU

Saya tak kuat menahan diri untuk tidak menulis seputar NU. Menjelang muktamar di Lampung minggu ini, timeline di media sosial saya berseliweran berita dan pernyataan seputar NU. Yang paling menarik dari semua kabar tentang NU adalah kandidat Ketua Umum yang bakal memimpin NU nanti. Saya tidak megikuti dengan detil siapa saja calon-calon Ketum yang bakal meramaikan bursa pemilihan nanti. Yang saya tahu ada dua nama besar yang paling berpotensi memimpin jam'iyah ini. Yang pertama adalah KH Said Aqil Siradj, petahana yang sudah menjabat Ketum selama dua periode. Yang kedua adalah KH Yahya Cholil Staquf, yang kini menjabat sebagai Katib Am di PBNU. Ada beberapa kandidat lain yang saya dengar. Tapi saya tak terlalu akrab dengan nama-nama itu. Jadi saya abaikan saja. NU adalah organisasi besar yang butuh pemimpin dengan kapasitas besar. Nama-nama lain di luar dua kandidat itu, menurut saya, kurang layak diperhitungkan. Mereka bisa saja ikut bertarung, untuk meramaikan pesta demokrasi yan