Postingan

Menampilkan postingan dengan label Khazanah

MAKSUD “KEUTAMAAN AL-`ALIM DI ATAS AL-`ABID”

Ngaji Suluk II (5) “Fadhlul Alim `alal Abid kafadhli `ala ummati/Keutamaan al-`Alim di atas al-`Abid sebagaimana keutamaanku atas umatku” (Nabi Muhammad). Seorang pesuluk di jalan Allah, ada yang menjadi al-Alim dan al-Abid (di samping ada dalam kategori yang lain lagi). Dan, kutipan di atas adalah sabda Nabi Muhammad berkaitan dengan al-Alim dan al-Abid, yang terdapat dalam ensiklopedi hadits tebal berjudul Jam’ul Jawami susunan Imam Jalaluddin as-Suyuthi (No. 15923, jilid V: 823), melalui jalan sahabat Abu Darda’.  Dalam  catatan kakinya disebutkan sebagai hadits yang diriwayatkan Imam ath-Thabrani dan dikomentari dalam catatan kaki itu: “As-Suyuthi menyebutnya berderajat hasan dan diakui oleh al-Munawi yang menyebut “Imam Thabrani telah meriwayatkannya dan isnadnya adalah hasan”. Hadits yang semakna ini diriwayatkan melalui jalan sahabat Anas dengan redaksi: “Fadhlul Alim `alal Abid kafadhlin Nabi `ala ummatihi” (disebut dalam Tarikhu Baghdad, susunan al-Khathib al-Baghdadi,

Hadits Bendera dan Panji-Panji

1. Hadits-hadits tentang liwa’ (bendera) dan royah (panji-panji), konteksnya adalah dalam perang.  Imam al-Bukhori memasukkan ini dalam bab “al-Jihâd was Siyar”, sehingga dimasukkan dalam konteks perang, dan di antaranya menyebutkan: “Bahwa sesungguhnya Qois bin sa`ad al-Ansori itu shohibu liwa’ir Rasul.” (No. 2974); lalu ada hadits lain, tentang liwa’ di No. 2975, tetapi tidak berkaitan dengan warna liwa’ atau warna royah. Dengan melihat itu, dapat difahami, mereka yang menampilkan liwa’ dan royah, apakah ini bisa dianggap  “mereka membawa spirit “perang” dan sedang berpikirsedang menghadapi musuh.” Dalam konteks ini adalah bangsa Indonesia, NKRI dan Pancasila dan umat Islam yang mendukung eksistensi berdirinya Indonesia, mayoritas al-Jamaah di dalam himpunan kaum muslimin. Dan apakah berarti mereka tidak menghargai pendapat al-Jama’ah dan lebih memilih menyempal dari al-Jama’ah untuk mendirikan selain bangsa ini? 2. Bentuk Liwa’ dan Royah di “Peperangan Nabi” Ibnu Bathol, pensyarah S

Ikhlas

Hajar protes. Mengapa suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Seperti jamaknya dia hanya bisa menduga bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberi putra. Hajar mengejar Ibrahim, suaminya, dan berteriak: “Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?” Ibrahim terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya terjepit antara pengabdian dan pembiaran. Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?” Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semua terke