BURA; Desas-Desus Traumatika Semiotik Santri

 

Pekan ini Film Pendek Indonesia kembali menorehkan penghargaan di kancah festival film internasional. Film Pendek berjudul BURA, produksi oleh Elora Films, Padi Padi, dan Pusbang Film Kemdikbud RI berhasil menyabet 3 award sekaligus, Jury Award, Best Cinematography Award, dan Best Sound Award di Festival Film Seashort Film Festival 2020 Malaysia. Film ini rilis pertama kali akhir 2019 di Jogja Netpac Asian Film Festival pada Program Blencong Competitions, serta masuk dalam nominasi Piala Citra film cerita pendek terbaik Festival Film Indonesia 2019. Masih di tahun yang sama, secara “International Priemere” film ini tayang di Silver Screen Award, Singapore International.

Memasuki awal tahun 2020, film BURA berkompetisi di Tampere Film Festival Finlandia dan lanjut masuk kompetisi Festival Internasional Minikino Film Week, sebuah program seleksi film pendek oleh Bali National and International Short Film Festival pada bulan juli lalu. Hingga akhirnya pada 24 September 2020, Film ini tayang di TVRI dalam program #BelajarDariRumah oleh Pusat Pengembangan Film Kemendikbud RI, lembaga pemerintah yang mengfasilitasi film ini.

Melihat perjalanan film ini, BURA mempunyai daya tarik tersendiri bagi penonton awam seperti Saya, saat menantikannya di layar kaca. Apalagi secara jadwal, Film pendek berdurasi 13 menit ini tayang pada akhir sesi.

BURA mengajak Saya kembali ke masa Mondok, di waktu usia sekolah tingkat menengah. Menceritakan rumor “Ninja” yang mencekam dunia kepesantrenan kala itu. Dimana tertulis di sekenario atau copy writing-nya; “Rumors kill faster than the killer itself. it terrifies people more than anything especially when it come to politics and and their belief”.

Masa transisi politik tahun 1998, Indonesia dilanda sebuah rumor di kalangan pesantren, pondok salaf, desa-desa pesantren atau pendidikan islam tradisional ala kampung, khususnya di daerah yang disebut “Tapal Kuda” di Jawa Timur. Isu terror menyebut bahwa ada selompok Ninja untuk menyelinap masuk ke Ndalem para Kyai demi sebuah misi rahasia saat gelap. Desas-desus informasi mengklaim bahwa ada yang mendapati beberapa Kyai yang meninggal bersimbah darah menjelang fajar dan pondoknya terbakar di tengah malam.

Saya ingat betul, saat banyak teman-teman santri senior yang datang ke Pondok di dekat kampung halaman Saya untuk “Gemblengan”, sebuah ritual tirakat untuk memperoleh ilmu kebal, tak tembus peluru, tahan bacok, dengan lelaku khusus tradisional, seperti Patigeni, Rajah, serta melafalkan mantra khusus berbahasa arab. Persis seperti adegan pembuka di Film ini.

Bagaimanapun, Kyai adalah panutan, tokoh sentral yang harus didahulukan, terutama soal keselamatan. Maka dari itu gemblengan, pun penguasaan ilmu kejadukan menjadi hal yg laik dikuasai oleh para santri, saat itu. Semata-mata untuk melindungi Kyai. Ada sangkaan Ninja ini adalah utusan dari bagian aparat negara yg menimbulkan Trauma Sekunder (Ikrom Zain, Kompasiana 2018).

Imajinasi penulis dan sutradara Mas Eden Junjung berhasil memetakan kehidupan cinta santri saat itu, dimana kesan “skandal” yang diciptakan pada peran Elang el Gibran sebagai seorang santri dan Ersya Ruswandono sebagai Santriwati bisa sukses meratakan anggapan dengan perasaan penonton saat memaknai sebuah “rumor” yang samar, tidak jelas, tapi ada dan terkenang.  

Overall, Film yang terispirasi dari pengalaman mondok Co-Produser Anfasul Marom ini laik untuk naik podium-podium festival film bergengsi lainnya. Apalagi dibawah tangan Eden Junjung, sutradara muda berbakat yang sedang men-developing Film panjang pertamanya, May Day. 


Postingan populer dari blog ini

FOKUS

Sebuah Renungan di Akhir 2022

MAKSUD “KEUTAMAAN AL-`ALIM DI ATAS AL-`ABID”

BERTETANGGA DGN DUNIA

NU memiliki kemampuan otoritatif sebagai representasi Islam

 AMAL KEBAIKAN ITU AKAN MENGHIASI SEMUANYA

 PUJIAN ITU MILIK ALLOH

AMAL UNTUK ALLOH