Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Nomophobia | Achmad Munjid

Nomophobia Achmad Munjid Nomophobia adalah temannya FOMO (fear of missing out), alias takut kudet yang pernah kutulis beberapa waktu lalu. Nomophobia adalah kosa kota baru dalam bahasa Inggris yang mulai dikenal sekitar 2008. Ia berarti rasa cemas bahkan ketakutan yang berlebihan akibat tidak adanya atau terhambatnya akses terhadap HP. Sedang konsekuensi dari FOMO dan nomophobia disebut "phubbing" (phone-snubbing), yaitu tindakan sebentar-sebentar mengecek HP hingga mengabaikan lawab bicara, orang-orang lain atau lingkungan sekitar. Sebagai eskapisme, banyak orang melakukan phubbing, misalnya untuk menghindari interaksi yang tidak perlu dengan orang lain atau rasa tidak nyaman di tempat yang asing seperti ketika ada dalam kendaraan umum atau tempat yang tak dikenal. Dalam banyak situasi, mengabaikan lingkungan dan orang lain yang ada di sekitar kini kian menjadi eskapisme yang dianggap "normal". Jangan lupa, banyak orang jadi sasaran tindakan kriminal juga akibat &q

BERTIRAKAT PADA MALAM HARI RAYA

Lanjutan Ngaji Suluk BERTIRAKAT PADA MALAM HARI RAYA  Oleh: Nur Kholik Ridwan (Pembina Yayasan Bumi Aswaja, dan Pengasuh Pesantren Bumi cendekia, Gombang Yogyakarta) Nabi Muhammad shollallohu `alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendirikan (menghidupkan) malam Idain dengan berharap memperoleh pahala (dan ridha Allah), hatinya tidak akan mati pada saat matinya hati-hati (manusia)” (HR. Ibnu Majah, No. 1782). Salah satu waktu yang hajat diketahui pesuluk di jalan Allah adalah waktu malam hari raya. Bertirakat pada malam hari raya memiliki beberapa faedah, seperti disebutkan dalam hadits di atas. Dalam riwayat Ibnu Majah, hadits di atas diriwayatkan melalui jalan Abu Umamah. Kalau melihat pada hadits ini saja, memang dinilai oleh sebagian Ahli hadits sebagai hadits lemah. Akan tetapi dalam Syuruh Ibnu Majah, dikutip penjelasan al-Bushiri yang menjelaskan adanya penguat dari beberapa jalan. Dalam kitab Syuruh Ibnu Majah, ketika menjelaskan hadits 1782 itu, dijelaskan kutipan Al-Buhsiri