Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

BERTIRAKAT PADA MALAM LAILATUL QODAR

Lanjutan ngaji suluk BERTIRAKAT PADA MALAM LAILATUL QODAR Oleh: Nur Kholik Ridwan (Pembina Yayasan Bumi Aswaja Yogyakarta, dan Pengasuh PP Bumi Cendekia, Gombang, Yogyakarta) Dari Sayyidah Aisyah berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shollalahu alaihi wasallam, yaitu jika ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar, lalu apa doa yang mesati aku ucapkan?” Rasulullah menjawab: “Berdoalah Allohumma innaka Afuwwun Karim tuhibbul `afwa fa’fu `anni” (HR. Tirmidzi, No. 3513). Pesuluk di jalan Allah, hajat mengerti waktu istimewa yang ada di bulan Ramadhan itu, yaitu Lailatul Qodar, yang diabadikan dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Qadar. Doa di atas adalah doa yang direkomendasikan Rasulullah kepada Sayyidah Aisyah untuk mengisi Lailatul Qodar. Inti doa adalah memohon ampunan  dan mengharap kawelasan Gusti Allah. Imam Tirmidzi menyebut hadits di atas dengan: “Ini hadits hasan shahih”. Lailatul Qodar itu adanya di bulan Ramadhan, dan terus ada setiap tahun, sebaga

BERTIRAKAT PADA HARI JUM`AT

Ngaji Suluk II (9) BERTIRAKAT PADA HARI JUM`AT Oleh: Nur Khalik Ridwan (Pembina Yayasan Bumi Aswaja dan Pengasuh Pesantren Bumi Cendekia Yogyakarta) “Hari Jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang Muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘Ashar” (HR. Al-Hakim). Hadits di atas disebutkan dan dikeluarkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak `alash Shahihaini, No. 1034 (versi Darul Haramain, 1997/1417, I: 406). Al-Hakim berkomentar soal isnad hadits ini: “Ini hadits shahih berdasarkan syarat Muslim”. Hadits yang menyebutkan soal ini disebutkan pula oleh beberapa riwayat hadits oleh perawi lain seperti dalam riwayat An-Nasa’i (No. 1760-1766, I: 279), Bukhari (No.  935); Muslim (No. 852), Ahmad (No. 10302). Hanya saja, pada riwayat Al-Hakim, ada tambahan redaksi: “Akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘Ashar (akhirus sa`ah ba’dal ashr).” Jum`a

KAUM TA’IBUN, LISAN BERISTIGHFAR, DAN KEWAJIBAN “QODHO’UL FA’ITAT”

Ngaji Suluk II (8) KAUM TA’IBUN, LISAN BERISTIGHFAR, DAN KEWAJIBAN “QODHO’UL FA’ITAT” Oleh: Nur Kholik Ridwan (Pembina Yayasan Bumi Aswaja, dan Pengasuh PP Bumi Cendekia Yogyakarta) “Adapun bagi orang-orang umum dan orang-orang yang lalai mengerjakan sholat maka dia diberi kelonggaran untuk mengqodho’nya, dan segera bertaubat kepada Allah. Namun apabila dia tetap meninggalkan shalat (dalam qodho’), maka kelonggaran itu tidak diberikan, melainkan adzab yang dia terima” (Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad) Hikmah di atas berasal dari al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad (penyusun Ratib al-Haddad) dalam kitab An-Nashaih ad-Diniyah wal Washaya al-Imaniyah. Apa yang dikemukakan dalam hikmah di atas, menegaskan ada orang-orang yang menggunakan kelonggaran yang diberikan Allah dengan mengqodho’ dalam memenuhi kewajiban-kewajiban fardhu yang ditinggalkan; dan ada yang tidak menggunakannya. Orang yang menggunakan kelonggaran itu, adalah orang-orang yang mengerti tentang ilmu menyesal. Dalam soal i

Para `Abirus Sabil, Minal Khariqin, dan Alladzi Asra bi Abdihi

Ngaji Suluk II (7) Oleh: Nur Kholik Ridwan (Pembina Yayasan Bumi Aswaja, dan Pengasuh PP Bumi Cendekia Yogyakarta) “Aku akan pergi meninggalkan dunia,  aku juga akan berpisah dengan kawan-kawanku, aku pun akan minum dari gelas kematian. Juga aku akan bertemu dengan amal-amal burukku, serta yang terpenting juga aku akan bertemu dengan Allah Yang Maha Penyayang” (Imam Syafii). Kalimat hikmah dari Imam Syafi`i di atas dimuat dalam Ath-Thabaqat al-Kubra al-Musammat bi Lawaqihil Anwar fi Thabaqatil Ahyar, karya Syaikh Abdul Wahab asy-Saya’rani (versi Maktabah al-Amirah asy-Syarfiyah, Mesir, 1315). Kalimat hikmah di atas menggambarkan kesadaran seorang mukmin yang telah sadar tentang perjalanan hidup di dunia untuk mujahadah. Memang pada dasarnya orang hidup di dunia itu sedang melakukan perjalanan, dan kesadaran untuk menempuh perjalanan itu, berarti orang itu sedang bersuluk dalam perjalanannya. Berdasarkan kesadaran tentang kesadaran perjalanan hidup itu, manusia dibagi ke dalam beberapa

Tirakat Mengamalkan Yasin-Fadhilah

Ngaji Suluk II (6) Tirakat Mengamalkan Yasin-Fadhilah  "Khasiat lainnya adalah untuk berbagai urusan penting, bacalah surat Yasin 41 kali setelah wudhu dan shalat ba'diyah Isya..." (Syaikh Ahmad Dairabi). Para pesuluk di jalan Allah, banyak yang mengamalkan untuk membaca berbagai surat atau ayat-ayat tertentu di dalam Al-Qur’an, dan kemudian mereka mengerti saro’irnya. Di antara surat yang diamalkan para ahli hikmah dan para pesuluk untuk melengkapi wirid-wirid mereka adalah Yasin Fadhilah. Istilah Yasin Fadhilah ini digunakan untuk menyebut amalan dengan membaca Surat Yasin, dengan mengulang ayat-ayat tertentu sampai beberapa kali, dan pada setelah ayat-ayat tertentu kemudian bersholawat kepada Nabi Muhammad dan berdoa kepada Allah. Istilah Yasin Fadhilah ini, saya mendengar dari guru yang mengijazakan Yasin Fadhilah, dan guru ini menamakan amalan ini dengan amalan Yasin Fadhilah; juga dari orang orang di kampung saya yang sering membacanya. Di buku-buku yang beredar

MAKSUD “KEUTAMAAN AL-`ALIM DI ATAS AL-`ABID”

Ngaji Suluk II (5) “Fadhlul Alim `alal Abid kafadhli `ala ummati/Keutamaan al-`Alim di atas al-`Abid sebagaimana keutamaanku atas umatku” (Nabi Muhammad). Seorang pesuluk di jalan Allah, ada yang menjadi al-Alim dan al-Abid (di samping ada dalam kategori yang lain lagi). Dan, kutipan di atas adalah sabda Nabi Muhammad berkaitan dengan al-Alim dan al-Abid, yang terdapat dalam ensiklopedi hadits tebal berjudul Jam’ul Jawami susunan Imam Jalaluddin as-Suyuthi (No. 15923, jilid V: 823), melalui jalan sahabat Abu Darda’.  Dalam  catatan kakinya disebutkan sebagai hadits yang diriwayatkan Imam ath-Thabrani dan dikomentari dalam catatan kaki itu: “As-Suyuthi menyebutnya berderajat hasan dan diakui oleh al-Munawi yang menyebut “Imam Thabrani telah meriwayatkannya dan isnadnya adalah hasan”. Hadits yang semakna ini diriwayatkan melalui jalan sahabat Anas dengan redaksi: “Fadhlul Alim `alal Abid kafadhlin Nabi `ala ummatihi” (disebut dalam Tarikhu Baghdad, susunan al-Khathib al-Baghdadi,

BERTAREKAT, BERSIKAP HATI-HATI DAN SUNGGUH-SUNGGUH DALAM BERAMAL

Ngaji Suluk II (4) BERTAREKAT, BERSIKAP HATI-HATI DAN SUNGGUH-SUNGGUH DALAM BERAMAL "Dan tarekat adalah mengambil dengan hati-hati seperti sikap wara’." "Dan bersungguh-sungguh seperti melaksanakan riyadhah dengan tunduk (jungkung)." (Syaikh Zainuddin bin Ali al-Malibari) Bait di atas adalah salah satu nazham yang ada dalam Hidayatul Adzkiya ila Thariqil Adzkiya, pada No. 7 (versi terlampir dalam Kifayatul Adzkiya wa Minhajul Ashfiya’, Darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1971, hlm. 10). Bait di atas, menjelaskan bahwa orang yang disebut melakukan tarekat dan menjalani hidup bertarekat, adalah menjalani sikap hidup dengan hati-hati berlandaskan ilmu, dan bersungguh-sungguh dalam melakukan riyadhah. Kehati-hatian dicontohkan dengan melakukan sikap hidup wara’  dan bersungguh-sungguh dicontohkan mau menjalani riayadhah. Aspek Wara’ Orang yang menjalani hidup bertarekat, diharuskan mengambil amal-amal syariat dengan hati-hati, tidak mengambil aspek yang ringan